Aspirasi news Purbalingga-Demo Warga Desa Bajong berorasi menuntut pemecatan dua oknum perangkat desa yang terlibat skandal asusila di Purbalingga, Kamis (18/12/2025).
Aksi ini dipicu oleh temuan video tak senonoh dan keresahan warga yang sudah menahun. Puluhan warga tumpah ruah ke jalan membawa poster-poster berisi kecaman pedas. Mereka bukan sedang menuntut bantuan sosial, melainkan menuntut pembersihan nama baik desa yang tercoreng oleh skandal asmara terlarang.
Amarah warga ini dipicu oleh dugaan tindak asusila yang melibatkan dua oknum perangkat desa mereka sendiri. Sosok yang menjadi sasaran kemarahan itu adalah M, seorang Kepala Dusun (Kadus) III yang sudah berkeluarga, dan P, seorang perempuan yang menjabat sebagai Kaur Administrasi.
Selama dua hingga tiga tahun terakhir, hubungan gelap keduanya hanya menjadi bisik-bisik tetangga. Namun, kesabaran warga habis ketika "gosip" itu berubah menjadi fakta yang menyakitkan.
Perwakilan warga, Hari, menceritakan bagaimana warga akhirnya bergerak sendiri menjadi "detektif" dadakan karena merasa pemerintah desa lamban.
"Awalnya kami pikir ini cuma gosip aja, tapi lama-kelamaan ceritanya makin berkembang dan warga semakin resah. Akhirnya kami mencoba mencari bukti, supaya jelas dan tidak timbul menjadi fitnah," ujar Hari kepada Tribun Banyumas di lokasi aksi.
Video Jadi Bukti
Pencarian bukti itu tidak sia-sia, namun hasilnya membuat miris. Warga menemukan rekaman video yang diduga kuat merekam tindakan tak senonoh kedua oknum tersebut. Bukti visual inilah yang menjadi pemantik ledakan emosi warga pagi ini.
Lebih mengecewakan lagi, Hari mengungkap bahwa sebenarnya beberapa perangkat desa lain pernah memergoki ulah keduanya. Namun, budaya "ewuh pakewuh" atau ketakutan untuk melapor membuat kasus ini terkubur dan berlarut-larut. Kini, nasi sudah menjadi bubur, warga tak mau lagi kompromi.
"Jadi, karena kami sudah resah dan bukti juga sudah ada, kami ingin kedua-duanya dipecat," tegas Hari dengan suara lantang.
Bagi warga Bajong, ini bukan kali pertama desanya diguncang isu serupa. Trauma masa lalu membuat kepercayaan mereka terhadap integritas perangkat desa berada di titik nadir.
Sanksi Tak Mempan
Menanggapi gelombang protes ini, Penjabat (Pj) Kepala Desa Bajong, Teguh Priyanto, tak bisa mengelak. Ia mengakui bahwa pemerintah desa sebenarnya tidak tinggal diam. Upaya pembinaan hingga sanksi disiplin sudah pernah dijatuhkan, namun tampaknya tak cukup ampuh untuk menghentikan perilaku indisipliner tersebut.
"Sebenarnya, langkah-langkah dari pemdes sudah kami tempuh. Beberapa hari yang lalu bahkan kami sudah membuat keputusan terkait hukuman disiplin. Pembinaan dan sanksi disiplin juga telah kami berikan sesuai aturan yang berlaku," jelas Teguh.
Sayangnya, sanksi itu dianggap angin lalu oleh kedua oknum, hingga akhirnya warga turun tangan. Terkait tuntutan pemecatan permanen yang diteriakkan warga, Teguh mengaku harus berhati-hati dan mengikuti prosedur birokrasi.
"Kalau tuntutan pemecatan, kami belum bisa menanggapi lebih jauh. Kami masih akan koordinasikan dan akan kami bahas dulu bersama warga dalam forum audiensi," pungkasnya.
Kini, warga Desa Bajong menunggu ketegasan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya berlindung di balik prosedur, tetapi berani mengambil keputusan demi menyelamatkan marwah desa.(Ganesha)

0 Komentar